Aku lahir di kota kecil Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah, pada hari Minggu, 28 Agustus 1994 pukul 02:20 WITA. Perkenalkan namaku Prasetyo Peuru Henry Putra, panggilan singkatnya Tyo (baca: Tio). Aku adalah seorang Jurnalis setidaknya untuk saat ini ketika awal menulis karya ini.
Aku mempelajari banyak sekali ilmu pengetahuan sebagai seorang saintis untuk dijadikan sebagai jurnal ilmu pengetahuan. Aku juga tertarik dan senang membuat puisi-puisi romantis, dan filosofis kehidupan. Semua banyak ku pelajari secara otodidak. Jadi tujuan tulisan ini dibuat adalah untuk menjelaskan Biografi kehidupan, pengalamanku selama ini menjalani kehidupan yang penuh dilema jatuh bangun dalam berbagai hal, dan proses personalisasi kapitalisasi kehidupanku.
Sekarang akan kujelaskan kelanjutan cerita kisah hidup sejak aku dari lahir sampai mengalami proses pindah-pindah tempat tinggal karena pekerjaan Papaku sebagai seorang Wartawan sekaligus Aktivis dan pemilik Usaha. Nama Papaku adalah Ir. Henry John Christian Peuru, dan Mamaku bernama Cendra Henny Kawung.
Jadi begini, saat aku kecil aku dibawa pindah ke Manado, juga suka bolak-balik kota Manado dan desa/kampung Boyong Atas (Cibotas: Cinta Boyong Atas) oleh kedua Orangtuaku. Aku TK di TK daerah Ranotana Manado, namanya TK Bethesda, kemudian aku sebelum lulus, pindah ke Desa Boyong Atas dan menempuh pendidikan di SD GMIM Boyong Atas. Aku bersama Kakakku Risa Christie Peuru. Dalam menempuh Pendidikan aku seringkali juara 3 besar. Dan aku juga beberapa kali mengikuti perlombaan menulis indah dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Menulis membuatku kembali membayangkan betapa indah masa kecilku tinggal di Desa Boyong Atas di bawah Pegunungan Gunung Lolombulan kala itu. Lalu pas SD, aku mendengar di Radio dan orang-orang se-desa bahwa Mamaku telah melahirkan adikku di Hospital di Tomohon dan adikku itu diberi nama awalnya adalah Moris Peuru Boyong Putra, nama Moris sekarang adalah Moris Peuru Kawung, terinspirasi oleh namaku saat waktu di Serua, Ciputat, di Media Sosial Facebook, aku mengubah nama FB-ku menjadi Prasetyo Peuru Kawung, dan juga Moris dulu pernah merengek mengapa kak Tyo diberi nama Prasetyo Peuru Henry Putra, ada Henry Putra nya sedangkan dia Boyong Putra diberi nama oleh Papa. Pada akhirnya saat SD nama Moris diubah namanya menjadi Moris Peuru Kawung.
Kemudian selulusnya aku di SD GMIM Boyong Atas, aku lanjut pindah ke daerah Serua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan. Sekolah di SMP Dwi Putra. Bertemu teman-teman baru, kak Yohan dan kak Calvin dan yang lainnya di kontrakan milik kak Yohan. Kak Yohan dan kak Calvin juga bersekolah di SMP Dwi Putra kala itu, terus karena pekerjaan juga aku kemudian pindah sekolah di SMPN 3 Gunung Sindur, Bogor. Aku ingat sekali pada saat ujian di sana pada mata pelajaran Fisika aku nyaris mendapatkan nilai sempurna, hanya 1 soal salah, karena aku kurang teliti ingin cepat-cepat selesai mengerjakan soal. Aku mencintai mata pelajaran Fisika, terutama karena melihat betapa hebatnya Profesor Yohanes Surya dalam membuat buku Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD GMIM Boyong Atas dulu. Kemudian aku pindah kembali ke Desa Boyong Atas dan bersekolah di SMPN 2 Tenga karena Papa ku bermasalah dengan hukum karena sebagai seorang Aktivis dia membuat Tim Pencari Fakta Bunuh Cuklik Kekerasan dan Terror di Sulawesi (TPF Bulikts). Pada masa itu-lah aku mengalami masa-masa terberatku dimulai.
Saat kelas 3 SMP di SMPN 2 Tenga salah satu Guruku sempat berkata, “Walaupun punya gelar Insinyur kalau malah hanya masuk ‘penjara’ buat apa?” dan saat mendengar hal tersebut aku merasa sakit hati. Namun kini aku biasa saja. Aku pun juara 1 di sekolah kala itu. Lalu aku saat memasuki SMA, aku mendaftar di SMAN 1 Amurang dan SMAN 1 Manado dan mendapat juara 3 besar di kedua Sekolah tersebut. Aku pun pada akhirnya memilih untuk Sekolah di SMAN 1 Amurang agar dekat dari daerah rumahku. Namun pada satu waktu, kami dijemput oleh orangnya Gubernur Sulut masa itu sebut saja SHS yang membawa kami menuju rumah dinasnya dengan kendaraan plat merah tanpa sepengetahuan kedua orangtua kami. Aku duduk berhadapan dengan Gubernur, dan dia membuatkan kopi atau teh, aku lupa, kepada aku bersama Kakak dan Adikku, dan saat aku menenggaknya aku merasa aneh karena aku seperti tidak sadar tapi sadar, kecurigaanku sampai saat ini bahwa minuman tersebut telah dicampur dengan racun atau zat Napsa mungkin. I don’t know! Kemudian pada malamnya aku terkena gejala epilepsi atau kejang-kejang saat mau ke toilet. Dari saat itu nilai ku saat aku dibawa dan dpindahkan tempat Sekolahnya ke SMAN 1 Manado, dari biasanya aku nilai 100 kini turun berangsur sampai 0 dan kemudian dapat nilai 66, dan sekitar 60-an sampai aku takut karena dalam Alkitab yang kubaca tiap hari saat SMP, bahwasanya antikris itu identik dengan angka 666. Dan memang pada masa itu Antikris sedang menjadi pembicaraan terang pada tahun 2009 saat aku kelas X1 di SMAN 1 Manado. Dan aku menjadi serba takut karena aku mencintai Tuhan Yesus Kristus dan mengalami saat seperti itu. Banyak hal yang terjadi kala itu, dan saat itu juga pertama kalinya aku ngekos. Dan aku pertama kalinya merasakan kesepian adalah pada saat itu, itulah awal mula cikal bakal aku mulai Depresi.
Kemudian aku dibawa pindah kembali ke Tangerang Selatan bersama Papa dan Mamaku. Selang beberapa waktu Papaku dipenjara lagi dengan berbagai kasus yang dikenakan karena seorang Pemerintah merasa terusik. Pada akhirnya mulai sakit dan dibawa ke Psikolog. Dan karena Psikolognya hands up, saya dirujuk ke Psikiater di RSCM. Saat itulah aku didiagnosa terkena Skizofrenia.
Aku tak menyangka bahwa pada akhirnya aku menjadi ODGJ (Orang dengan gangguan jiwa) dan sebenarnya menurut Psikiater kala itu mengatakan bahwa aku bisa sembuh dalam 3,5 tahun. Namun karena aku pernah tidak minum obat karena menurut penuturan orang rohani yang mengatakan tak perlu minuman dan menyerahkan semua dalam mukjizat Tuhan. Malah nyatanya aku relapse, dan herannya tiap dipertengahan tahun, gangguan jiwa ini malah kambuh. Dan juga malah saat itu setiap Papa disidang di pengadilan, sakit ku kambuh, dan itu aneh menurutku, kenapa? Aku merasa aku menjadi beban dan merepotkan banyak orang kala itu. Dan aku malah membuka banyak celah dalam diri dan malah menjauh dari Tuhan. Itu adalah kesalahan fatal dan aib bagi diriku terhadap Tuhan dan sesama. Namun bersyukur banyak orang benar dan baik di Gerejaku GBI Bethesda di Tangerang Selatan yang peduli dan mensupportku kala itu.
Kemudian setelah telah pindah ke Tangerang Selatan kala itu, untuk pindah ke Sekolah Menengah Kejuruan dan mengambil spesialisasi MultiMedia karena ku pikir ini untuk membantu Papaku dalam mencetak Media, aku pindah dari SMA dan harusnya sudah naik kelas dua bahkan seharusnya di Sekolah SMANSA Amurang, aku masuk akselerasi, dan pindah ke SMANSA Manado kelas X1 bahkan sempat menjadi Ketua Pelsis (Pelayanan Siswa) Se-Sulut, aku merasa tekanan yang besar di masa itu, kasus yang harus dialami Papaku, dan beban yang harus kupikul sendirian di masa muda kala itu. Sampai akhirnya pindah ke SMK Nusantara Ciputat mengulang dari kelas 1 karena SMK berbeda dengan SMA, pikirku saat itu SMK lebih banyak prakteknya, ternyata sama saja. Ketika itu aku bertingkah abnormal dan dibawa ke Psikolog daerah BSD dan Psikolognya handsup dan memberikan rujukan ke RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) depan Universitas Nusa Persada. Dan dibawa ke Ruang Psikiatri Anak dan Remaja. Disitulah aku pertama kali didiagnosa terkena Skizofrenia sekitaran tahun 2009 akhir kalau tidak salah. Sayapun ketika mulai sembuh lalu menyelidiki tentang penyakit Skizofrenia dan melakukan pencarian di Internet tentang apa itu Skizofrenia. Sebenarnya menulis ini semua menyakiti hati dan perasaanku, namun aku akan mencoba menulisnya sedikit-demisedikit dengan sabar.
To be continued.
