Genre: Non-Fiksi, Slice of Life
Pada suatu malam yang tenang, di kota kecil Luwuk, Banggai, Prasetyo Peuru Henry Putra, atau yang akrab disapa Tyo, lahir ke dunia. Tepat pukul 02:20 WITA, suara tangis kecilnya memenuhi kamar sederhana di rumah sakit. Tyo tumbuh menjadi anak yang ceria, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu. Dari kecil, ia sudah memperhatikan dunia dengan tatapan yang berbeda, seolah-olah Tuhan telah memberinya panggilan khusus.
Keluarga Tyo kerap berpindah-pindah, mengikuti pekerjaan sang ayah, Ir. Henry John Christian Peuru, seorang wartawan sekaligus aktivis yang memperjuangkan keadilan. Pekerjaan ayahnya mempertemukan Tyo dengan berbagai tempat dan pengalaman yang berharga. Dari Manado ke Boyong Atas, hingga akhirnya Tyo dan keluarganya harus pindah ke Tangerang Selatan. Setiap kepindahan selalu membawa pelajaran baru bagi Tyo, namun juga rasa kehilangan atas kenyamanan yang sementara.
Di masa kecilnya, Tyo sangat mencintai alam Boyong Atas. Pegunungan Lolombulan menjadi saksi betapa damainya hatinya setiap kali ia bermain di sana, menikmati udara segar, dan memandangi langit biru. Namun, kedamaian itu perlahan mulai memudar saat Tyo tumbuh dewasa. Pekerjaan ayahnya membuat keluarganya menghadapi berbagai cobaan, dan di usia yang sangat muda, Tyo mulai merasakan beratnya kehidupan.
Ketika Tyo menginjak bangku SMP, cobaan datang silih berganti. Ayahnya yang gigih memperjuangkan kebenaran mulai mendapatkan tekanan dari pihak-pihak yang tidak suka. Kehidupan keluarga menjadi semakin sulit. Pindah dari satu sekolah ke sekolah lain, dari Boyong Atas ke Tangerang Selatan, Tyo merasakan beban yang tidak biasa bagi anak seusianya. Namun, ia selalu mencoba bertahan, mengandalkan iman dan kekuatan dari Tuhan.
Pada suatu malam, ketika sedang termenung di kamarnya, Tyo merenung. Ia merasa kesepian. Kesulitan yang terus datang membuatnya mulai meragukan banyak hal, termasuk dirinya sendiri. Saat itu, ia mulai merasakan gejala depresi. Dan tak lama setelah itu, ia didiagnosa mengidap skizofrenia.
“Kenapa aku, Tuhan?” gumam Tyo saat ia mendengar vonis itu. Segalanya berubah sejak saat itu. Hidup yang dulu penuh impian besar, kini terasa lebih berat. Namun, dalam perjalanan berat itulah, Tyo semakin mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Ia percaya, ada maksud di balik segala cobaan ini.
Selama bertahun-tahun, Tyo belajar banyak. Bukan hanya soal ilmu pengetahuan yang ia pelajari secara otodidak, tetapi juga soal kehidupan. Ia mulai menulis, merangkai puisi-puisi romantis dan filosofis yang berasal dari pengalaman hidupnya. Setiap bait puisinya mengandung makna yang dalam, mencerminkan perasaannya yang paling jujur.
Tyo juga selalu memegang teguh imannya. Meski sering kali ia merasa rapuh, ia percaya Tuhan selalu bersamanya, menuntunnya di setiap langkah. Dalam doa-doanya, Tyo meminta agar suatu saat ia dipertemukan dengan seseorang yang bisa menerimanya apa adanya, seorang wanita yang lembut dan penuh kasih, yang bisa bertumbuh bersamanya dalam iman.
Waktu berlalu, dan meski berbagai cobaan terus datang, Tyo tetap teguh. Ia tahu hidup ini adalah lukisan besar yang sedang dirangkai oleh Tuhan. Meskipun beberapa warnanya terlihat gelap dan suram, Tyo yakin bahwa pada akhirnya Tuhan akan melukiskan sesuatu yang indah, sesuatu yang akan memuliakan nama-Nya.
Di suatu sore yang tenang, Tyo duduk di teras rumahnya, menatap langit yang berwarna oranye keemasan. Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya, membawa aroma alam yang segar. Di dalam hatinya, ada perasaan damai yang tak bisa dijelaskan. Ia tahu, meskipun jalannya penuh liku, ia tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan selalu bersamanya, membimbingnya melalui segala tantangan.
Dan di sanalah, di antara doa dan harapan, Tyo menanti dengan tenang. Suatu hari, ia percaya, Tuhan akan mempertemukannya dengan seseorang yang akan melengkapi lukisan hidupnya. Bersama, mereka akan menulis cerita baru, penuh dengan cinta, iman, dan pertumbuhan. Hingga saat itu tiba, Tyo akan terus menulis, berkarya, dan menjalani hidupnya dengan keyakinan bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.
—
Cerita ini hanyalah sekelumit dari perjalanan hidup Tyo yang penuh warna. Di setiap langkahnya, ia membuktikan bahwa kekuatan iman dan cinta kepada Tuhan adalah yang terpenting, apa pun cobaan yang dihadapi.
