• Kepingan Harapan

    Prasetyo Peuru Henry Putra menatap langit malam dari jendela di kamarnya saat liburan Natal di rumah lamanya. Hujan gerimis menemani sunyi yang melingkupinya. Angin lembut menghembuskan dedaunan, seolah menyampaikan pesan yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang penuh kerinduan. Sudah lebih dari satu dekade sejak dia didiagnosa dengan skizofrenia. Kehidupan yang dia bayangkan penuh warna…

    Read more

Kepingan Harapan

Prasetyo Peuru Henry Putra menatap langit malam dari jendela di kamarnya saat liburan Natal di rumah lamanya. Hujan gerimis menemani sunyi yang melingkupinya. Angin lembut menghembuskan dedaunan, seolah menyampaikan pesan yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang penuh kerinduan.

Sudah lebih dari satu dekade sejak dia didiagnosa dengan skizofrenia. Kehidupan yang dia bayangkan penuh warna berubah menjadi gelap dengan rasa takut dan suara-suara yang tak bisa dijelaskan. Banyak malam berlalu dengan air mata, bertanya mengapa dirinya dipilih untuk menanggung semua ini.

Namun malam ini berbeda. Di tangannya tergenggam sebuah Alkitab kecil, peninggalan almarhum ayahnya, Ir. Henry John Christian Peuru. Ayahnya selalu berkata, “Hidup ini bukan tentang seberapa besar beban yang kita pikul, tapi seberapa sering kita bangkit dan percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.” Kata-kata itu selalu menjadi pelita di tengah kegelapan yang menyelimutinya.

Prasetyo memejamkan mata, mengingat wajah ayahnya. Sosok tegar itu tidak pernah menyerah, meskipun harus menghadapi banyak tantangan sebagai pemimpin Yayasan Sinar. Ayahnya adalah teladan yang dia kagumi, yang mengajarkan bahwa hidup adalah tentang memberi, bahkan ketika diri sendiri merasa kekurangan.

“Apakah aku bisa seperti ayah?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Tiba-tiba, sebuah kenangan muncul di benaknya. Saat masih kecil, Prasetyo pernah bertanya kepada ayahnya, “Apa tujuan hidup kita?” Dengan senyuman lembut, ayahnya menjawab, “Untuk menjadi terang di tempat yang gelap, meskipun cahayanya kecil.”

Kata-kata itu kini terasa seperti suara yang datang langsung dari surga. Prasetyo menyadari bahwa meskipun perjuangannya berat, hidupnya masih memiliki tujuan. Ia ingin menjadi terang bagi orang lain, terutama mereka yang merasa terjebak dalam kegelapan seperti dirinya.

Dengan semangat yang perlahan tumbuh, ia membuka laptopnya dan mulai mengetik. Kisah hidupnya—dari jatuh hingga bangkit, dari kesendirian hingga menemukan makna. Air matanya menetes saat ia menulis, bukan karena rasa sakit, tetapi karena harapan yang baru ia temukan.

“Untuk semua yang merasa sendiri, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanmu,” tulisnya di akhir kalimat.

Malam itu, Prasetyo merasa cahaya kecil di hatinya kembali menyala. Ia tahu perjalanan ini masih panjang, tetapi ia percaya, setiap langkahnya adalah bagian dari rencana besar Tuhan.

Dan di bawah langit yang masih gerimis, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjadi terang, seberapapun kecilnya.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai