Prasetyo Peuru Henry Putra, seorang pria yang sering dipanggil Tyo, berjalan sendirian di tepi pantai. Mentari senja memancarkan warna oranye keemasan, melukis bayangannya yang panjang di pasir. Di tengah ketenangan itu, pikirannya berkelana, kembali pada hari-hari penuh perjuangan yang membentuknya.
Tyo adalah seorang yang kompleks. Di balik senyum lembutnya, ada perjuangan panjang melawan penyakit skizofrenia yang menghampirinya sejak 2009. Namun, bukan itu yang mendefinisikan hidupnya. Yang membuatnya berbeda adalah keberanian untuk menghadapi hari demi hari, serta tekadnya untuk menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Setiap langkah Tyo di pasir meninggalkan jejak yang seakan berbicara. “Ini adalah cerita hidupku,” pikirnya. Dalam kesunyian itu, ia teringat pada masa-masa saat ia harus melawan rasa putus asa. Ia pernah terjatuh, bahkan hingga loncat dari lantai tiga sekolahnya di SMK Nusantara Ciputat. Meski tubuhnya sembuh perlahan, hatinya sempat hancur berkeping-keping.
Namun, Tyo tidak pernah menyerah. Ia belajar tentang dunia medis, berbekal konsultasi dari almarhum ayahnya, Ir. Henry John Christian Peuru, dan seorang profesor psikiater. Ketekunannya tidak hanya membantunya memahami kondisi dirinya tetapi juga menginspirasi cara pandangnya dalam memimpin. Sebagai pemimpin Times Young Organization Indonesia dan General Manager TabloidJejak.co.id, ia menggunakan panggung itu untuk menyalakan harapan bagi generasi muda.
Saat angin pantai berhembus lembut, Tyo tersenyum. Ia teringat pada salah satu puisi yang pernah ia tulis:
“Dalam badai, aku belajar berdiri. Dalam gelap, aku belajar melihat terang. Karena jejakku bukanlah sekadar tapak di pasir, tetapi langkah menuju tujuan yang lebih besar.”
Di antara bayang senja itu, ada sosok wanita yang menghampiri. Ia adalah seorang teman lama, seorang yang selama ini hanya hadir dalam doanya. Wanita itu tersenyum, membawa harapan baru yang tak terucap.
“Kamu tahu, Tyo,” katanya lembut, “jejakmu bukan hanya milikmu. Setiap langkahmu menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk aku.”
Tyo menatapnya, ada kehangatan dalam hatinya yang selama ini dingin. Ia menyadari bahwa mungkin, inilah awal dari babak baru dalam kisah hidupnya.
Sambil memandang ke cakrawala, Tyo tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang. Namun, ia tak lagi berjalan sendiri. Kini, ada harapan baru di sisinya, dan ia siap menulis cerita-cerita lain yang lebih indah.
“Karena hidup ini,” bisik Tyo pada dirinya sendiri, “adalah tentang meninggalkan jejak yang berarti, meski di antara bayang.”

Tinggalkan komentar